Kisah Perang Di Desa Campang Tiga dalam melawan penjajahan Belanda

Kisah perang di Desa Campang Tiga dalam melawan penjajah Belanda

picture by @NUANSAPOTRET


Campang Tiga adalah sebuah desa yang terletak sekitar 130 km dari kota palembang, dan terletak 102 km dari ibukota martapura. Tepat dipinggiran sungai komering yang masuk kedalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Pada zaman dahulu untuk mencapai Desa ini orang harus mendayung perahu sekitar 6 hari sedangkan untuk ke palembang hanya membutuhkan waktu 2 hari dengan mengikuti arus sungai, mengapa membutuhkan waktu 6 hari karena melawan arus Sungai Komering yang sangat deras dan kuat.

Sebelum tahun 1930 satu - satunya akses menuju Desa ini menggunakan perahu dan barulah pada tahun 1930 dibuatnya jalur darat yang terbuat dari timbunan tanah liat dan kerikil seiring berjalanya waktu pada tahun 1990 dibuatnya jalur darat yang terbuat dari aspal dan juga jembatan beton yang menghubungi beberapa desa dan dusun. Kehidupan di desa ini  rata - rata bermata pencaharian petani padi.

Desa Campang Tiga memiliki kisah perjuangan masyarakatnya dalam mempertahankan kemerdekaan indonesia pada 1 Januari 1947 - 5 Januari 1947. Militer Belanda mulai masuk ke Campang Tiga pada waktu dimulainya gencatan senjata perang 5 hari 5 malam di Palembang, pada masa gencatan senjata ini digunakan untuk menyusun kekuatan lagi. Belanda memerintahkan kepada pasukan nya untuk masuk ke Desa Campang Tiga, militer belanda tersebut bertemu dengan warga Campang Tiga yang bernama Kiyay khotib, Djambak Saleh dan Igama Ratu, di Desa Negeri sakti yang bersebelahan dengan Desa Campang Tiga dengan dibatasi sungai komering.

Pasukan Belanda atau (NICA) minta diantarkan ke Desa Campang Tiga, ke 3 warga pun mengetahui bahwa belanda akan memasuki desa nya oleh karena itu perahu yang mengangkut militer Belanda pun diputarkan ke Desa Sukaraja dan Militer Belanda pun mengetahui siasat mereka kekesalan Belanda pun memeuncak terbunuhlah Igama Ratu. Kejadian tersebut dilaporkan lah oleh Djambak saleh dan kiyay khotib di Kapten Alamsyah Ratu Perwira Negara dan Kapten Runcing. Nah dari sini lah maka berangkatlah pasukan Campang Tiga yang dipimpin oleh Sersan Mayor Ahmad Hamid, terjadilah tembak menembak dan saling serang ke dua belah pihak di desa Sukaraja besoknya terjadi lagi serangan pasukan Belanda di hutan tak jauh dari Desa Sukaraja. Semakin terdesaknya pasukan Campang Tiga akhirnya terpaksa mundur karena mereka kalah di persenjataan.

Mulai saat itu Belanda pun sudah tau kelemahan pasukan Campang Tiga hal ini sangat mempermudah untuk melawan pasukan tersebut, Lettu Asanawi pun dapat laporan bahwa Belanda akan menghancurkan Desa tersebut. Maka, ratusan warga Campang Tiga pun menyiapkan senjata, keberanian serta mental untuk melawan pasukan Belanda akan tetapi Lettu Asnawi mempunyai ide yang sangat cemerlang untuk mengirimkan surat berisi perjanjian damai yang dibawa oleh dua orang warga dengan menggunakan perahu sambil mengibarkan bendera sang saka merah putih, mulai dari sinilah perjanjian ini diterima oleh Belanda.

Karena perjanjian tersebut maka berangkatlah pasukan belanda meninggalkan desa Sukaraja ke Desa Gunung Jati, ketika mereka berangkat pasukan Belanda pun di serang oleh pasukan Lettu Asnawi pasukan belanda pun diam tak berkutik dan dibawa ke Desa Sukanegeri sesampai disana pasukan Belanda pun dibunuh oleh pasukan yang dipimpin oleh Lettu Asnawi. Kisah ini pun dikenal di kalangan masyarakat Komering khususnya Desa Campang Tiga dengan ''KISAH 7 BELANDA''. Tak lama dari kejadian tersebut diketahui oleh Belanda yang lain, mereka pun menyadari bahwa selama ini perjanjian tersebut hanya untuk mamanipulasi agar pasukan Campang Tiga dapat siap melawan pasukan Belanda maka terjadilan perang yang tidak dapat dihindarkan.

Warga Campang tiga tidak ingin hidup di bawah kaki kolonialisme maka pasukan Campang tiga pun melawan dengan angkat senjata , kekuatan dan strategi untuk bisa mengalahkan Belanda pun dikerahkan dan pertempuran ini pun di menangkan oleh Pasukan Campang Tiga. untuk mengenang pertempuran tersebut maka warga Desa Campang Tiga pun sepakat membuat tugu sebagai bentuk penghormatan kepada warga yang ikut andil dalam perjuangan melawan Belanda.


        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah puyang komering yang dapat berwubah wujud menjadi naga apakah benar?

Bagaimana Penyebaran Islam Di Tanah Komering?